Rabu, 11 November 2015

Banyuwangiku

Merujuk data sejarah yang ada, sepanjang sejarah Blambangan kiranya tanggal 18 Desember 1771 merupakan peristiwa sejarah yang paling tua yang patut diangkat sebagai hari jadi Banyuwangi. Sebelum peristiwa puncak perang Puputan Bayu tersebut sebenarnya ada peristiwa lain yang mendahuluinya, yang juga heroik-patriotik, yaitu peristiwa penyerangan para pejuang Blambangan di bawah pimpinan Pangeran Puger ( putra Wong Agung Wilis ) ke benteng VOC di Banyualit pada tahun 1768.
Namun sayang peristiwa tersebut tidak tercatat secara lengkap pertanggalannya, dan selain itu terkesan bahwa dalam penyerangan tersebut kita kalah total, sedang pihak musuh hampir tidak menderita kerugian apapun. Pada peristiwa ini Pangeran Puger gugur, sedang Wong Agung Wilis, setelah Lateng dihancurkan, terluka, tertangkap dan kemudian dibuang ke Pulau Banda ( Lekkerkerker, 1923 ).

Berdasarkan data sejarah nama Banyuwangi tidak dapat terlepas dengan keajayaan Blambangan. Sejak jaman Pangeran Tawang Alun (1655-1691) dan Pangeran Danuningrat (1736-1763), bahkan juga sampai ketika Blambangan berada di bawah perlindungan Bali (1763-1767), VOC belum pernah tertarik untuk memasuki dan mengelola Blambangan ( Ibid.1923 :1045 ).
Pada tahun 1743 Jawa Bagian Timur ( termasuk Blambangan ) diserahkan oleh Pakubuwono II kepada VOC, VOC merasa Blambangan memang sudah menjadi miliknya. Namun untuk sementara masih dibiarkan sebagai barang simpanan, yang baru akan dikelola sewaktu-waktu, kalau sudah diperlukan. Bahkan ketika Danuningrat memina bantuan VOC untuk melepaskan diri dari Bali, VOC masih belum tertarik untuk melihat ke Blambangan (Ibid 1923:1046).
Namun barulah setelah Inggris menjalin hubungan dagang dengan Blambangan dan mendirikan kantor dagangnya (komplek Inggrisan sekarang) pada tahun 1766 di bandar kecil Banyuwangi ( yang pada waktu itu juga disebut Tirtaganda, Tirtaarum atau Toyaarum), maka VOC langsung bergerak untuk segera merebut Banyuwangi dan mengamankan seluruh Blambangan. Secara umum dalam peprangan yang terjadi pada tahun 1767-1772 ( 5 tahun ) itu, VOC memang berusaha untuk merebut seluruh Blambangan. Namun secara khusus sebenarnya VOC terdorong untuk segera merebut Banyuwangi, yang pada waktu itu sudah mulai berkembang menjadi pusat perdagangan di Blambangan, yang telah dikuasai Inggris.
Dengan demikian jelas, bahwa lahirnya sebuah tempat yag kemudian menjadi terkenal dengan nama Banyuwangi, telah menjadi kasus-beli terjadinya peperangan dahsyat, perang Puputan Bayu. Kalau sekiranya Inggris tidak bercokol di Banyuwangi pada tahun 1766, mungkin VOC tidak akan buru-buru melakukan ekspansinya ke Blambangan pada tahun 1767. Dan karena itu mungkin perang Puputan Bayu tidak akan terjadi ( puncaknya ) pada tanggal 18 Desember 1771. Dengan demikian pasti terdapat hubungan yang erat perang Puputan Bayu dengan lahirnya sebuah tempat yang bernama Banyuwangi. Dengan perkataan lain, perang Puputan Bayu merupakan bagian dari proses lahirnya Banyuwangi. Karena itu, penetapan tanggal 18 Desember 1771 sebagai hari jadi Banyuwangi sesungguhnya sangat rasional.
1. Budaya Tarian Gandrung Banyuwangi

Tarian Gandrung adalah seni pertunjukan tarian yang berasal dari Banyuwangi Jawa Timur. Tarian ini muncul sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat setiap habis panen. Gandrung masih satu genre dengan Ketuk Tilu dari Jawa Barat, Tayub dari Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger dari wilayah Banyumas dan Joged Bumbung dari Bali. Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa. Saking populernya, telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut. Tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Lihat saja di berbagai sudut wilayah Banyuwangi akan sering banyak patung penari gandrung.

Tarian yang diiringi dengan musik ini dimainkan oleh seorang wanita penari profesional yang menari bersama tamu, terutama pria secara berpasangan. Iringan musik tadi  merupakan khas perpaduan budaya Jawa dan Bali. Sementara peralatan musik pengiringnya terdiri dari gong, kluncing, biola, kendhang, dan sepasang kethuk. Kadang-kadang diselingi dengan saron Bali, angklung, atau rebana sebagai bentuk kreasi dan diiringi electone.Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya, baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh.
Cerita Menyangkut Gandrung
Seperti yang diceritakan oleh para sesepuh Banyuwangi tempo dulu, gandrung Banyuwangi muncul bersamaan dengan pembabatan hutan “Tirtagondo (Tirta arum) untuk membangun ibu kota Balambangan pengganti Pangpang (Ulu Pangpang). Pembabatan ini dilakukan atas prakarsa bupati kala itu, yakni Mas Alit. Dia dilantik sebagai bupati pada 2 Februari 1774 di Ulupangpang.
Dari cerita tutur yang disampaikan secara turun-temurun, gandrung semula dilakukan oleh kaum lelaki yang membawa peralatan musik perkusi berupa kendang dan beberapa rebana. Mereka memainkan peralatan musik tersebut di hadapan penduduk yang mampu secara ekonomi. Para pemain tersebut menerima semacam imbalan dari penduduk yang mampu berupa beras atau hasil bumi lainnya.
Setiap hari mereka berkeliling mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat Balambangan sebelah timur. Kokon, rakyat yang mengungsi tersebut jumlahnya tinggal sekitar lima ribu jiwa. Imbalan tadi disumbangankan kepada para pengungsi.
Kondisi rakyat tersebut sebagai akibat dari penyerbuan Kompeni yang dibantu oleh Mataram dan Madura pada tahun 1767 untuk merebut Balambangan dari kekuasaan Mangwi. Peperangan tersebut terus berlanjut hingga berakhirnya perang Bayu yang sadis, keji dan brutal pada 11 Oktober 1772. Kompeni memenangkan perang tersebut.
Konon, jumlah rakyat yang tewas, melarikan diri, tertawan, hilang tak tentu rimbanya atau dibuang oleh Kompeni lebih dari 60 ribu jiwa. Sementara sisanya sekitar lima ribu jiwa hidup terlantar dengan keadaannya yang sangat memprihatinkan. Mereka terpencar cerai-berai di desa-desa, di pedalaman, bahkan banyak yang belindung di hutan-hutan. Mereka terdiri dari para orang tua, para janda serta anak-anak yang tak lagi memiliki orangtua.
Mereka mau kembali ke kampung halamannya untuk memulai kehidupan baru. Sebagaian dari mereka ikut membabat hutan Tirta Arum yang akan dijadikan ibu kota. Lalu mereka menetap di ibu kota yang baru dibangun atas prakarsa Mas Alit. Ibu kota tersebut kemudia diberi nama Banyuwangi. Tujuan kelahiran kesenian ini ialah menyelamatkan sisa-sisa rakyat yang telah dibantai habis-habisan oleh Kompeni. Mereka membangun kembali bumi Belambangan sebelah timur yang telah hancur porak-poranda akibat serbuan Kompeni.
Pertama kalinya yang melakukan tarian gandrung adalah para lelaki, yang didandani seperti perempuan. Instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung ini adalah kendang. Saat itu, biola telah digunakan. Gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890-an. Diduga lenyap karena ajaran Islam melarang lelaki berdandan seperti perempuan. Sebenarnya, tari gandrung laki-laki benar-benar lenyap tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan.Kesenian gandrung Banyuwangi masih tegar dalam menghadapi gempuran arus globalisasi, yang dipopulerkan melalui media elektronik dan media cetak. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun mulai mewajibkan setiap siswa dari SD hingga SMA untuk mengikuti ekstrakurikuler kesenian Banyuwangi.
Sejak tahun 2000, antusiasme seniman-budayawan Dewan Kesenian Blambangan meningkat. Gandrung, dalam pandangan kelompok ini adalah kesenian yang mengandung nilai-nilai historis komunitas Using yang terus-menerus tertekan secara struktural maupun kultural. Dengan kata lain, Gandrung adalah bentuk perlawanan kebudayaan daerah masyarakat Using.
Perkembangan selanjutnya, tari Gandrung resmi menjadi maskot pariwisata Banyuwangi yang disusul pematungan gandrung terpajang di berbagai sudut kota dan desa. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga memprakarsai promosi gandrung untuk dipentaskan di beberapa tempat seperti Surabaya , Jakarta , Hongkong, dan beberapa kota di Amerika Serikat.
sumber : lihat disini
2. Makanan Rujak Soto Khas Banyuwangi

Pecinta kuliner, selama ini kita tahu kalau rujak dan soto punya ciri berbeda. Namun apa jadinya ya kalau dijadikan satu? Inilah salah satu kreasi kuliner khas Banyuwangi yang menjadi primadona pecinta makanan tradisonal. Perpaduan rujak sayur dan soto babat ini memang unik karena yang disajikan adalah rujak sayur namun dengan siraman soto babat. So, rasanya tidak bisa ditebak namun sekali mencicipi bisa langsung ketagihan. Menu ini juga cocok dengan pecinta makanan pedas. Untuk menemukannya juga sangat mudah karena bisa ditemukan di warung makan pinggir jalan. Bahan-bahan yang dipakai antara lain kacang, petis, udang, garam, gula merah, pisang klutuk, tempe, tahu, emping melinjo, telur, kerupuk udang, tauge, kangkung dan kuah soto dan isiannya.
sumber : lihat disini
3. Ciri Khas Tarian Seblang Banyuwangi

Banyak cara di lakukan manusia untuk mengucapkan syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Desa Bakungan, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa timur. Mereka menggelar ritual Tari Seblang, Minggu (12/10/2014) malam.

Masyarakat Using sebagai suku asli Kabupaten Banyuwangi mempercayai Seblang merupakan singkatan dari "Sebele Ilang" atau "sialnya hilang". Selain di Desa Bakungan, tarian Seblang juga digelar di Desa Oleh Sari yang juga berada di wilayah Kecamatan Glagah.

Yang membedakan adalah waktu pelaksanaan dan yang menarikannya. Tari Seblang di Desa Oleh Sari dibawakan oleh perempuan muda dan dilaksanakan selama 7 hari berturut-turut setelah hari Raya Idul Fitri. Sedangkan di Desa Bakungan, ritual Tari Seblang digelar satu minggu setelah Hari Raya Idul Adha dan dibawakan oleh penari yang usianya uzur dan dilakukan semalam suntuk di Balai Desa Bakungan.

Upacara ritual Tari Seblang Bakungan diawali dengan berziarah ke makam leluhur desa, Buyut Witri dengan membawa berbagai macam perlengkapan. Mereka juga mengambil air dari sumber mata air di lingkungan Watu Ulo. Nantinya air tersebut dipercikkan di sudut-sudut desa.

Setelah itu mereka menyiapkan syarat untuk ritual Tari Seblang yang terdiri dari ketan sabrang, ketan wingko, tumpeng, kinangan, bunga 500 biji, tumpeng takir, boneka, pecut dan kelapa yang menjadi perlambang kejujuran.

Setelah magrib, ritual diawali dengan berkeliling desa dengan membawa obor atau dikenal dengan ider bumi. Uniknya saat prosesi ini, semuan listrik di Desa Bakungan dipadamkan dan penerangan hanya didapatkan dari obor yang dibawa warga. Di setiap pojok desa, mereka akan berhenti sambil melafalkan doa-doa keselamatan.
sumber :lihat disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar